SvargaMedia- Industri film pendek terus menjadi ruang kreatif bagi sineas muda untuk menyampaikan gagasan dan perspektif mereka melalui karya yang kuat secara visual maupun naratif.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah “Keadilan Hitam”, sebuah film pendek bergenre action produksi Mata Sineas Production yang digarap oleh kelompok mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jurusan Produksi Film dan Televisi (PFTV) angkatan 2024.
Film berdurasi 18 menit ini tidak hanya menawarkan adegan aksi yang intens, tetapi juga mengajak penonton merenungkan batas tipis antara keadilan dan balas dendam.
Proses produksi film keseluruhan berlangsung sekitar 2 bulan 17 hari, dan untuk pengambilan gambar hanya memakan waktu 3 hari, yaitu tanggal 18–20 Juni 2026.
Mengusung bahasa Indonesia dengan pilihan subtitle Indonesia dan Inggris, “Keadilan Hitam” menyasar penonton berusia 17 tahun ke atas.
Dengan tema yang cukup dewasa dan penuh konflik moral, film ini diharapkan mampu memberikan pengalaman sinematik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah pemikiran.
Sutradara sekaligus penulis naskah, Carol Sconery, menjelaskan bahwa film ini lahir dari keinginan untuk menyalurkan gejolak emosional ke dalam sebuah karya visual.
Melalui kisah yang dibangun, ia mengeksplorasi pertanyaan mendasar mengenai makna keadilan ketika seseorang dihadapkan pada kehilangan yang begitu besar.
“Dalam film ini, setiap koreografi aksi dan kekerasan bukanlah sekadar hiburan dan estetika visual, melainkan dialog tanpa kata yang memanifestasikan rasa sakit, amarah, dan nurani yang perlahan terkikis oleh sebuah realitas pahit bahwa untuk mengalahkan monster, seseorang harus rela berubah menjadi monster itu sendiri. Untuk mewujudkan transformasi psikologis ini, saya menggunakan pendekatan neo-noir yang terinspirasi dari gaya penyutradaraan Francis Ford Coppola dalam film “The Godfather (1972),” ungkap Carol, yang menggarap film bukan sekadar untuk tugas kuliah bertajuk Praktika Terpadu, namun menjadi portofolio juga untuk jenjang karirnya sebagai seorang sineas.
Tak hanya mengedepankan estetika visual, film ini juga memberikan perhatian besar terhadap koreografi aksi.
Adegan pertarungan dirancang dengan gaya taktis dan efisien dalam jarak dekat sehingga memperlihatkan bagaimana karakter utama menghadapi setiap ancaman dengan perhitungan matang.
Pendekatan tersebut memperkuat tensi cerita sekaligus memberikan pengalaman visual yang intens bagi penonton.
Dari sisi cerita, “Keadilan Hitam” mengisahkan Reza, seorang pengacara berintegritas yang dikenal menolak praktik suap.
Di balik citra tersebut, ia menyimpan luka mendalam akibat pembunuhan sang ayah.
Ketika asistennya berhasil menemukan sosok yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut, Reza memilih meninggalkan jalur hukum yang selama ini ia perjuangkan.
Perjalanan balas dendam membawa Reza menyusup ke markas sebuah kartel, menghabisi para penjaga satu per satu hingga akhirnya berhadapan langsung dengan dalang pembunuhan ayahnya.
Pada titik inilah penonton diajak menyaksikan dilema moral yang menjadi inti cerita: apakah keadilan masih dapat disebut sebagai keadilan ketika diwujudkan melalui tindakan balas dendam?
Pertanyaan tersebut menjadi benang merah yang terus mengiringi setiap adegan hingga akhir film.
Di jajaran pemain, karakter Reza diperankan oleh Brian Obie, didukung oleh Jazz William sebagai Penyuap, Riera Valen sebagai Bodyguard Penyuap, Bagus Gede sebagai Penjaga 1, Rizky Firmansyah sebagai Penjaga 2, Abraham Syebat sebagai Penjaga 3, Tri Saputra sebagai Bos Kartel, Julian Nathan sebagai Tangan Kiri Bos Kartel, dan Arkananta Putera sebagai Tangan Kanan Bos Kartel. Kehadiran para pemeran tersebut menjadi bagian penting dalam membangun dinamika cerita yang sarat konflik dan aksi.
Di balik layar, proses produksi melibatkan kolaborasi beberapa kru dari berbagai divisi, mulai dari penyutradaraan, sinematografi, artistik, tata cahaya, tata suara, hingga penyuntingan.
Berikut susunan Tim Produksi:
Produser: Patricia. Line Produser: Bagus. PU: Rendi, Wisang, Fani. Runner: Wisang, Jendiko. BTS: Kevin, Devi.
Director: Carol. Scriptwritter: Carol. AD 1: Tuta. Talco: Yusuf. Script Supervisor: Gede. Visual Continuity: Dani, Cia. Clapper: Radit, Valen. Physical Trainer: Gus Dyo, Satrya. Choreographer: Satrya, I Putu Juli.
Director of Photography: Nur Haliza Mid. Camera Operator 1: Yosua. Camera Operator 2: Raphael. Assistant Camera 1: Wikram. Assistant Camera 2: Chris. Guna DIT: Raka.
Gaffer: Wistara. Lightman: Kevin, Naufal, Dhamma, Grady, Jessen, Dikoz.
Sound Director: Patricia. Sound Recordist: Dika, Patricia. Boom Operator: Fikri, Fani. Sound Design: Aditya Danu, Patricia.
Production Designer: Firda. Art Director: Firda. Set Decorator: Nel, Veri, Jovan, Fauzan, Rehan, Nanda. Set Dresser: Bigel. Prop Master: Viona, Bigel. Art Buyer: Tude. Makeup: Dara, Firda. Wardrobe: Ayra.
Editor: Aditya Danu. Colorist: Gabriel. VFX: Dotu, Aditya Danu.
Kolaborasi lintas divisi tersebut menunjukkan bahwa produksi film pendek membutuhkan kerja sama yang solid serta pembagian peran yang terstruktur.
Mulai dari pengembangan naskah, latihan koreografi aksi, pengaturan pencahayaan, perekaman suara, hingga proses editing, seluruh tahapan menjadi elemen penting yang saling melengkapi demi menghadirkan sebuah karya yang utuh.
Melalui “Keadilan Hitam”, Mata Sineas Production tidak hanya menghadirkan sebuah film pendek penuh aksi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana karya sinema dapat menjadi media refleksi terhadap persoalan kemanusiaan.
Film ini menawarkan pengalaman yang memadukan ketegangan, eksplorasi visual, serta konflik psikologis yang relevan dengan realitas kehidupan.
Pemutaran film pendek “Keadilan Hitam” bersama 10 film pendek lain karya kelompok mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jurusan Produksi Film dan Televisi (PFTV) angkatan 2024, yang berlanggsung di Cinepolis, Plaza Renon, Denpasar, pada Rabu 5 Agustus 2026 ini, menjadi wadah penting bagi sineas muda untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik sekaligus menunjukkan proses kreatif yang melibatkan banyak disiplin ilmu.
Alih-alih berhenti hanya di pemutaran film pendek di bioskop, yang bertujuan untuk unjuk karya dalam melengkapi tugas mata kuliah yang diwajibkan di kampus, kelompok mahasiswa yang notabene adalah para sineas muda ini berencana mendistribusikan film karya mereka ini ke berbagai ajang festival film, baik yang berskala nasional maupun internasional.
“Menurut saya, film “Keadilan Hitam” ini menarik dan patut diapresiasi, untuk itu kami berencana membawa film ini ke ajang festival seperti Minikino Film Week (MFW) di Bali, Festival Film Anak Bangsa (FFAB), dan International Students Creativa Award (ISCA) di Jepang,” pungkas Patricia, Produser Film “Keadilan Hitam”. (dp/sva)