SvargaMedia– Tren kasus stroke di Bali menunjukkan kondisi yang patut diwaspadai.
Penyakit yang selama ini identik dengan usia lanjut kini justru banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni antara 45 hingga 65 tahun.
Bahkan, tidak sedikit kasus yang terjadi pada usia lebih muda, sekitar 35 tahun.
Fenomena ini menjadi perhatian serius kalangan medis, mengingat dampak stroke yang dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian.
Salah satu persoalan utama yang masih kerap terjadi adalah keterlambatan pasien mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
Dokter spesialis saraf dari SMF Neurologi RS Kasih Ibu Denpasar, dr. Yoanes Gondowardaja Sp.S, M.Biomed menjelaskan bahwa waktu penanganan menjadi faktor krusial dalam kasus stroke.
Terdapat periode emas atau golden time selama 4,5 jam sejak gejala pertama muncul, yang sangat menentukan peluang kesembuhan pasien.
“Namun kenyataannya, di Bali masih sering ditemukan kasus yang datang lebih dari 6 jam bahkan lebih dari 2 hari,” ungkapnya saat Sharing Session bertema “Stroke: SeGeRa ke RS”, Jumat 27 Maret 2026 di LN Fortunate Coffee Bali, Denpasar.
Dalam periode golden time tersebut, tenaga medis masih memiliki peluang besar untuk memberikan terapi berupa obat pengencer darah dosis kuat guna mengembalikan aliran darah ke otak.
Jika pasien datang terlambat, maka risiko komplikasi seperti kecacatan permanen hingga kematian akan meningkat secara signifikan.
Secara epidemiologi, stroke kini bahkan telah menjadi penyebab kematian tertinggi, melampaui penyakit jantung.
Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kadar kolesterol tinggi, hingga kebiasaan merokok.
Namun, rendahnya tingkat pemahaman masyarakat juga menjadi faktor penting yang memperparah situasi.
Masih banyak masyarakat yang belum mengenali gejala awal stroke dengan baik.
Tidak sedikit pula yang justru mengambil langkah keliru, seperti menunggu gejala hilang dengan sendirinya atau mencoba penanganan alternatif seperti pijat dan tusuk jarum.
Padahal, tindakan tersebut berpotensi memperburuk kondisi pasien.
Data nasional yang merujuk pada Global Burden of Disease 2019, Riskesdas 2018, serta PERSI 2009 menunjukkan bahwa sekitar 2,5 dari 1.000 orang berisiko mengalami stroke setiap tahunnya.
Dari jumlah tersebut, sekitar 15 persen berujung pada kematian, sementara 65 persen lainnya mengalami kecacatan.
“Angka ini hampir mirip dengan studi di luar negeri, bahkan sedikit lebih tinggi dibanding negara maju karena pemahaman kita tentang pencegahan stroke masih perlu ditingkatkan,” kata Yoanes.
Untuk menekan angka kejadian stroke, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap faktor risiko yang dimiliki.
Penderita hipertensi, misalnya, perlu rutin mengonsumsi obat agar tekanan darah tetap terkontrol pada kisaran 120–140 mmHg.
Hal yang sama juga berlaku bagi penderita diabetes dan kolesterol tinggi yang harus disiplin menjalani pengobatan.
Selain itu, perubahan gaya hidup menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan.
Menghentikan kebiasaan merokok serta meningkatkan aktivitas fisik merupakan upaya sederhana namun sangat efektif dalam mencegah stroke.
“Yang paling penting adalah peran serta masyarakat dalam menghentikan kebiasaan merokok dan mengatasi inaktivitas atau kurang gerak,” imbuhnya.
Dalam kondisi darurat, masyarakat diingatkan untuk mengenali gejala stroke melalui slogan “SeGeRa Ke RS”.
Istilah ini merujuk pada tanda-tanda seperti (Se)nyum yang tidak simetris, (Ge)rakan tubuh melemah, bica(Ra) menjadi pelo, muncul (Ke)bas, gangguan penglihatan atau (R)abun, mati rasa, hingga (S)akit kepala hebat.
Jika gejala tersebut muncul, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.
Setibanya di fasilitas kesehatan, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan diagnosis.
Teknologi seperti CT Scan, MRI, hingga DSA digunakan untuk melihat kondisi pembuluh darah di otak secara detail.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, tindakan lanjutan dapat berupa pemberian obat hingga prosedur medis seperti mechanical thrombectomy pada kasus tertentu.
“Kita juga menggunakan teknologi seperti CT Scan, MRI, atau DSA untuk memberikan penanganan yang tepat,” ujarnya.
Meski stroke merupakan penyakit serius, peluang pemulihan tetap terbuka lebar, terutama jika pasien mendapatkan penanganan dengan cepat.
Dalam periode hingga enam bulan pasca serangan, pasien masih memiliki kesempatan untuk menjalani rehabilitasi melalui berbagai terapi, seperti fisioterapi, terapi okupasi, serta terapi bicara.
Sementara itu, Direktur Utama RS Kasih Ibu Denpasar, dr. Ni Kadek Dwi Widhyari, MM menegaskan pentingnya penyebaran edukasi kesehatan secara luas kepada masyarakat.
“Kita menyadari bahwa memang meskipun informasi kesehatan banyak beredar di media sosial, kita tetap perlu mendengar penjelasan dari ahlinya langsung,” ungkapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai rutin melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini.
“Tidak mesti harus mulai dengan harga yang mahal, tetapi bagaimana kita bisa melihat sedini mungkin kondisi-kondisi apa yang berisiko,” ucapnya.
“Pada saat kita lebih dini mengatasinya, maka komplikasi yang terjadi bisa kita cegah,” pungkasnya. (dp/sva)