Catat Rekor Baru! Okupansi Griya Santrian Tembus 80 Persen di Low Season

I Gusti Arta Wibawa, Resident Manager Griya Santrian, Sanur, Denpasar.

SvargaMedia- Tingkat hunian atau okupansi di Griya Santrian, Sanur, Bali, menunjukkan performa yang cukup menggembirakan dalam beberapa waktu terakhir.

Pada Maret 2026, hotel ini mampu mencatatkan tingkat hunian yang tinggi meskipun berada di periode low season serta di tengah dinamika industri pariwisata global yang dipengaruhi konflik di Timur Tengah.

Resident Manager Griya Santrian, I Gusti Arta Wibawa, mengungkapkan bahwa sepanjang Maret 2026, rata-rata okupansi kamar berada di kisaran 80 persen.

Capaian ini mencerminkan permintaan pasar yang tetap solid, khususnya dari wisatawan mancanegara yang menjadikan kawasan Sanur sebagai pilihan utama saat berlibur di Bali.

Menurutnya, pencapaian tersebut sekaligus menegaskan bahwa Sanur masih memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan sejumlah destinasi lain di Pulau Dewata, terutama bagi wisatawan yang mencari suasana yang lebih tenang dan nyaman.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa tingkat hunian bahkan sempat mencapai angka tertinggi pada Februari lalu, yakni sebesar 82 persen.

Angka ini menjadi catatan terbaik sepanjang operasional hotel, terlebih karena diraih pada periode low season yang biasanya identik dengan penurunan jumlah kunjungan wisatawan.

“Angka tersebut menjadi rekor terbaik sepanjang sejarah operasional hotel, terutama karena diraih pada periode low season yang biasanya identik dengan penurunan jumlah kunjungan wisatawan,” kata Arta Wibawa, saat ditemui di Griya Santrian, Sanur, Denpasar, Rabu 28 April 2026.

Tingginya okupansi tersebut tidak terlepas dari kontribusi pasar utama yang selama ini menjadi andalan hotel.

Wisatawan asal Australia dan Eropa masih mendominasi jumlah tamu, dengan negara seperti Belanda, Jerman, dan Prancis menjadi penyumbang terbesar.

Selain itu, karakteristik tamu yang didominasi oleh repeater guest turut berperan besar dalam menjaga stabilitas tingkat hunian.

Loyalitas tamu menjadi salah satu kekuatan utama yang dimiliki Griya Santrian.

“Banyak tamu yang kembali menginap setiap tahun, bahkan dalam beberapa waktu, datang lebih dari satu kali dalam setahun,” bebernya.

Ia menambahkan, kedekatan yang terjalin antara tamu dan staf hotel juga menjadi faktor penting yang mendorong tingkat loyalitas tersebut. Para tamu tidak hanya datang untuk menikmati fasilitas, tetapi juga untuk merasakan kembali pengalaman pelayanan yang sudah mereka kenal sebelumnya.

Di sisi lain, situasi global turut memberikan dampak terhadap okupansi. Konflik di kawasan Timur Tengah, misalnya, berpengaruh terhadap peningkatan lama tinggal tamu. Beberapa wisatawan yang mengalami kendala penerbangan memilih memperpanjang masa inap, mulai dari tiga malam hingga satu minggu.

“Perpanjangan masa tinggal ini turut berkontribusi terhadap peningkatan okupansi secara keseluruhan, sekaligus memberikan tambahan pada pendapatan hotel,” ucapnya.

Lebih jauh, Sanur dinilai masih menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan di Bali. Dibandingkan dengan beberapa kawasan lain, tingkat hunian di Sanur relatif lebih stabil dan dalam beberapa periode bahkan lebih unggul.

Kondisi ini membuat Sanur tetap kompetitif di tengah ketatnya persaingan industri perhotelan di Bali. Kombinasi antara pasar loyal, lokasi strategis, serta suasana yang khas menjadi faktor yang terus menarik minat wisatawan dari berbagai negara.

Ke depan, manajemen Griya Santrian optimistis tingkat hunian dapat terus dipertahankan seiring dengan berbagai upaya peningkatan kualitas produk dan layanan yang terus dilakukan. (dp/sva)

IMG-20250206-WA0079
Iklan kak Dewi
Iklan kak Dewi (2)
WhatsApp Image 2025-04-15 at 13.26.52
Iklan kak Dewi (3)
Papan Iklan Svarga
Papan Iklan 3 Svarga